Laman

Welcome to my blog !

Selasa, 08 Januari 2013

HAKIKAT PENDIDIKAN



 oleh : Eka Pawit Martiana

 I. Pendahuluan
a.Latar Belakang
Kita  sepakat  bahwa  pendidikan  merupakan  sesuatu  yang tidak asing  bagi kita,  terlebih  lagi  karena  kita  bergerak  di  bidang  pendidikan.  Juga  pasti  kita sepakat bahwa pendidikan diperlukan oleh  semua orang. Bahkan dapat dikatakan bahwa  pendidikan  ini  dialami  oleh  semua  manusia  dari  semua  golongan.  Tetapi seringkali  orang  melupakan  makna  dan  hakikat  pendidikan  itu  sendiri.  Layaknya hal  lain  yang  sudah  menjadi  rutinitas,  cenderung  terlupakan  makna  dasar  dan hakikatnya.
Karena  itu  benarlah  kalau  dikatakan  bahwa  setiap  orang  yang  terlihat dalam  dunia  pendidikan  sepatutnyalah  selalu  merenungkan  makna  dan  hakikat pendidikan,  merefleksikannya  di  tengah-tengah  tindakan/aksi  sebagai  buah refleksinya. Makalah  singkat  ini mencoba  mengungkap  makna  education, Tarbiyah, pendidikan  yang  terkadang  dimaknai  secara  sempit.  Makalah  ini  akan memberikan  gambaran  perbedaan  makna tarbiyah, ta‟lim, tadris, tahdzib, Ta‟dib dan  tadrib  dengan  menampilkan  pendapat-pendapat  para  pakar pendidikan  baik literatur  barat  maupun  timur.  Pembahasan  makalah  ini  dimulai  dengan pengertian  pendidikan  dari  tinjauan  etimologis  dan  terminologis  untuk mengantarkan pembahasan pada hakikat pendidikan.



II. Pengertian Pendidikan
            Makna pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaannya. Dengan  demikian,  bagaimanapun  sederhananya  peradaban  suatu masyarakat, di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya. Pendidikan  menurut pengertian Yunani adalah “pedagogik” yaitu ilmu menuntun  anak,  orang  Romawi  memandang pendidikan sebagai “educare”, yaitu mengeluarkan  dan  menuntun,  tindakan  merealisasikan  potensi  anak  yang  dibawa dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai “Erzichung” yang setara  dengan  educare,  yakni  membangkitkan  kekuatan  terpendam  atau mengaktifkan  kekuatan/potensi  anak.  Dalam  bahasa  Jawa  pendidikan  berarti panggulawentah  (pengolahan),  mengolah,  mengubah,  kejiwaan,  mematangkan perasaan,  pikiran  dan  watak,  mengubah  kepribadian  sang  anak.  Sedangkan menurut  Herbart  pendidikan  merupakan  pembentukan  peserta  didik  kepada  yang diinginkan sipendidik yang diistilahkan dengan Educere.( M.R. Kurniadi,STh;1) Dalam  kamus  besar  Bahasa  Indonesia,  pendidikan  berasal  dari  kata  dasar “didik” (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian proses pengubahan dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perluasan, dan cara mendidik. Ki  Hajar  Dewantara  mengartikan  pendidikan  sebagai  upaya  untuk memajukan  budi  pekerti,  pikiran  serta  jasmani  anak,  agar  dapat  memajukan kesempurnaan  hidup  dan  menghidupkan  anak  yang  selaras  dengan  alam  dan masyarakatnya.
1.    Tinjauan Etimologis
Istilah pendidikan, menurut Carter V. Good dalam “Dictionary of Education” dijelaskan sebagai berikut:
a.    Pedagogy:  1.  The art, practice of profession of teaching “seni, praktik atau profesi sebagai pengajar (pengajaran)
2.    The  sistematized  learning  or  instruction  concerning principles  and  methods  of  teaching  and  of  student control and guidance; lagerly replaced by the term of education.  “ilmu  yang  sistematis  atau  pengajaran yang  berhubungan  dengan  prinsip-prinsip  dan metode-metode  mengajar  pengawasan  dan bimbingan  murid  dalam  arti  luas  diartikan  dengan istilah pendidikan”
b. Education:
1.    proses perkembangan pribadi;
2.    proses sosial;
3.    profesional cources;
4.    seni  untuk  membuat  dan  memahami  ilmu pengetahuan  yang  tersusun  yang diwarisi/dikembangkan generasi bangsa.
            Dalam bahasa Arab  pendidikan disebut Tarbiyah yang diambil dari Rabba yang  bermakna  memelihara ,  mengurus,  merawat, mendidik.  Dalam literatur-literatur  berbahasa  Arab  kata  Tarbiyah  mempunyai bermacam  macam  definisi  yang  intinya  sama  mengacu  pada  proses pengembangan  potensi  yang  dianugrahkan  pada  manusia. Definisi-definisi  itu antara lain sebagai berikut:
1.    Tarbiyah adalah  proses  pengembangan  dan  bimbingan  jasad,  akal  dan  jiwa yang  dilakukan  secara  berkelanjutan  sehingga  mutarabbi  (anak  didik)  bisa dewasa dan mandiri untuk hidup di tengah masyarakat.
2.    Tarbiyah  adalah  kegiatan  yang  disertai  dengan  penuh  kasih  sayang, kelembutan  hati,  perhatian  bijak  dan  menyenangkan; tidak  membosankan.( Al-Maraghi, Juz V; 34)
3.    Tarbiyah adalah  proses  yang  dilakukan  dengan  pengaturan  yang  bijak  dan dilaksanakan secara bertahap dari yang mudah kepada yang sulit.
4.    Tarbiyah  adalah  mendidik  anak  melalui  penyampaian  ilmu,  menggunakan metode  yang  mudah  diterima  sehingga  ia  dapat  mengamalkannya  dalam kehidupan sehari-hari (Fathul Bari  Jilid I; 162 )
5.    Tarbiyah  adalah  kegiatan  yang  mencakup  pengembangan,  pemeliharaan, penjagaan,  pengurusan,  penyampaian  ilmu,  pemberian  petunjuk,  bimbingan, penyempurnaan  dan perasaan  memiliki    terhadap  anak  didik. (Al-Maraghi  jilid III: 79). Dalam definisi –definisi  di atas  tersirat  unsur-unsur  pembelajaran yaitu ta‟lim dan  tadris  (Instruction  ) tahdib  dan ta‟dib (penanaman  akhlak  mulia)  dan Tadrib (Taining – pelatihan).
Tinjauan Terminologis
a.Ki  Hajar  Dewantara  mengartikan  pendidikan  sebagai  upaya  untuk  memajukan budi  pekerti,  pikiran  serta jasmani  anak,  agar  dapat  memajukan  kesempurnaan hidup  dan  menghidupkan  anak  yang  selaras  dengan  alam  dan  masyarakatnya. Lebih  lanjut  beliau (  Kerja  Ki  Hajar  Dewantara 1962:14)menjelaskan bahwa “Pendidikan  umumnya  berarti  daya  upaya  untuk  memajukan bertumbuhnya  budi pekerti  (  kekuatan  batin,  karakter),pikiran  (intellect)  dan  tubuh  anak;  dalam pengertian  Taman  Siswa  tidak  boleh  dipisah-pisahkan  bagian-bagian  itu,  agar supaya  kita  dapat  memajukan  kesempurnaan  hidup,  yakni  kehidupan  dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya “. Beliau  lebih  lanjut  mejelaskan  bahwa pendidikan  harus  mengtamakan  aspek-aspek berikut:
1.     1.Segala alat, usaha dan cara pedidikan harus sesuai dengan kodratnya keadaan
2.     2.Kodratnya  keadaan  itu  tersimpan dalam  adat-istiadat  setiap  rakyat,  yang  oleh karenanya bergolong-golong  merupakan  kesatuan dengan  sifat  prikehidupan sendiri-sendiri,  sifat-sifat  mana  terjadi dari  bercampurnya  semua  usaha  dan  daya upaya untuk mencapai hidup tertib damai. 
3.     3.Adat  istiadat,  sebagai  sifat peri  kehidupan atau  sifat  percampuran  usaha  dan daya  upaya  akan  hidup  tertib  damai itu  tiada  terluput  dari  pengaruh  zaman  dan tempat.; oleh karena itu tidak tetap senantiasa berubah.
4.     4.Akan  mengetahui  garis-hidup  yang  tetap  dari  sesuatu  bangsa  perlulah  kita mempelajari zaman yang telah lalu
5.     Pengaruh  baru  diperoleh  karena  bercampurgaulnya  bangsa  yang  satu  dengan yang lain,percampuran mana sekarang ini mudah sekali terjadi disebabkan adanya hubungan  modern.Haruslah  waspada  dalam  memilih  mana  yang  baik  untuk menambah kemuliaan  hidup kita dan  mana  yang  akan  merugikan. Itulah diantara pikiran- pikiran beliau yang sangat sarat dengan nilai.
 b.Menurut buku “Higher Education For America Democracy”: Education  is  an institution  of  civilized  society,  but  the  purposes  of  education  are  not  the  same  in all societies, an educational system finds it‟s the guiding principles and ultimate goals in the aims and philosophy of the social order in which it functions (11: 5) “pendidikan alah suatu lembaga dalam tiap-tiap  masyarakat  yang  beradab, tetapi  tujuan  pendidikan  tidaklah  sama  dalam  setiap  masyarakat.  Sistem pendidikan  suatu  masyarakat  (bangsa)  dan  tujuan-tujuan  pendidikannya didasarkan atas  prinsip-prinsip (nilai) cita-cita dan filsafat yang berlaku dalam suatu masyarakat (bangsa)”.
 c.Menurut Prof. Richy dalam buku “Planing  for  Teaching  and  Introduction  to Education”: The  term  “education”  refers  to  the  broad  function  of  preserving  and inproving the life of the group through bringing new members into its shared concerns.  Education  is  thus  a  far  broader  process  thah  that  which  accurs  in schools.  It  is  an  essential  social activity  by  which  communicaties  continue  to exist  in  complex  communicaties  this  function  is  specialized  and institutionalized in formal education, but there is always the education outside the school with wich the formal process in related (12: 489) “Istilah pendidikan berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan  kehidupan  suatu  bangsa  (masyarakat)  terutama  membawa warga masyarakat  yang  baru  (generasi  muda)  bagi  penunaian  kewajiban  dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang  lebih  luas  daripada  proses  yang  berlangsung  di  dalam  sekolah  saja. Pendidikan  adalah  suatu  aktivitas  sosial  yang  esensial  yang  memungkinkan masyarakat  yang  kompleks  dan  modern. Fungsi  pendidikan  ini  mengalami proses  spesialisasi  dan  melembaga  dengan  pendidikan  formal,  yang  tetap berhubungan dengan proses pendidikan formal di luar sekolah. 
 d.Prof. Lodge dalam buku “Philosophy of Education”: The  word  “education”  is  used,  sometimes  in  a  wider,  sometimes  in  a narrower, sense. In the wider sense, all experienceis said to the educative and life is education and education is life. “Perkataan pendidikan kadang-kadang dipakai dalam pengertian yang luas dan pengertian  sempit.  Dalam  pengertian  luas  pendidikan  adalah  semua pengalaman,  dapat  dikatakan  juga  bahwa  hidup  adalah  pendidikan  atau pendidikan adalah hidup”. In  the  narrower  sense  “education  is  restricted  to  that  function  of  the community  which  consists  in  passing  in  its  traditions  its  background  and  its outlook to the members of the rising generation. “Pengertian  pendidikan  secara  sempit  adalah  pendidikan  dibatasi  pada  fungsi tertentu  di  dalam  masyarakat  yang  terdiri  atas  penyerahan  adat  istiadat (tradisi)  dengan  latar  belakang  sosialnya,  pandangan  hidup  masyarakat  itu kepada warga masyarakat generasi berikutnya.
e.Menurut Brubacher dalam bukunya “Modern Philosophies of Education”: “Education should be thought of as the process of mans reciprocal adjusment to nature to his follows and to the ultimates nature of the cosmos. “Pendidikan diartikan  sebagai proses timbal  balik dari setiap pribadi  manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam, dengan teman dan alam semesta. Education  is  the organized  development  and  equipment  of  all  the  power  of human being, moral, intellectual, and physical, by and for their individual and social uses, directed to word the union of these activities with their creator as their final end. “Pendidikan  merupakan  pula  perkembangan  yang  terorganisasi  dan kelengkapan  dari  semua  potensi  manusiawi,  moral,  intelektual  dan  jasmani oleh  dan  untuk  kepribadian  individunya  serta kegunaan  masyarakatnya  yang diarahkan  demi  menghimpun  semua  aktivitas  tersebut  bagi  tujuan hidupnya”.

 III. Fenomena Pendidikan Indonesia
Bagi  orang-orang  yang  berkompeten  terhadap  bidang  pendidikan  akan menyadari bahwa pendidikan kita sampai saat ini masih mengalami “sakit”. Dunia pendidikan  yang  sakit  ini  disebabkan  karena  pendidikan  yang  seharusnya membuat  manusia  menjadi  manusia,  tetapi  dalam  kenyataannya  seringkali  tidak demikian.  Seringkali  kepribadian  manusia  cenderung  direduksi  oleh  sistem pendidikan yang ada. Masalah  pertama  adalah  bahwa  pendidikan  di  Indonesia  menghasilkan “manusia robot”. Kami katakan demikian karena pendidikan  yang diberikan ternyata  berat  sebelah  atau  tidak  seimbang. Pendidikan  ternyata  mengorbankan keutuhan,  kurang  seimbang  antara  belajar  yang  berpikir  (kognitif)  dan  perilaku belajar yang merasa (afektif). Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi adalah disintegrasi. Masalah kedua, sistem pendidikan yang top down (dari atas  ke  bawah)  atau  kalau  menggunakan  istilah  Paula  Freire  (tokoh  pendidik Amerika  Latin) adalah pendidikan gaya  bank. Sistem pendidikan  ini  sangat tidak membebaskan  karena  peserta  didik dianggap sebagai manusia  yang  tidak  tahu apa-apa. Masalah  ketiga, model  pendidikan  yang  hanya  diorientasikan  kepada manusia  yang  dihasilkan  pendidikan  ini hanya  siap  untuk  memenuhi  kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Manusia  sebagai  objek  (wujud dehumanisasi)  merupakan  fenomena  yang justru  bertolak-belakang  dengan  visi  humanisasi,  menyebabkan  manusia tercerabut  dari  akar-akar  budayanya.  Mampukah  kita  menjadikan  lembaga pendidikan  sebagai  sarana  interaksi  kultural  untuk  membentuk  manusia  yang sadar akan tradisi dan kebudayaan serta keberadaan masyarakatnya sekaligus juga mampu  menerima  dan  menghargai  keberadaan  tradisi, dan  budaya  situasi masyarakat  lain.  Dalam  hal  ini,  makna  pendidikan  menurut  Ki  Hajar  Dewantara menjadi sangat toleran untuk direnungkan.
 IV. Hakikat Pendidikan
Pendidikan  merupakan transfer  of  knowledge,  transfer  of  value  dan transfer  of culture  and  transfer  of  religius yang  semoga  diarahkan pada  upaya untuk memanusiakan manusia. Hakikat  proses  pendidikan  ini  sebagai  upaya  untuk  mengubah  perilaku individu  atau  kelompok  agar  memiliki  nilai-nilai  yang  disepakati berdasarkan agama,  filsafat,  ideologi,  politik,  ekonomi, sosial,  budaya  dan  pertahanan keamanan. Menurut  pandangan  Paula  Freire  pendidikan  adalah  proses  pengaderan dengan  hakikat  tujuannya  adalah  pembebasan.  Hakikat  pendidikan  adalah kemampuan untuk mendidik diri sendiri. Dalam  konteks  ajaran  Islam  hakikat  pendidikan  adalah  mengembalikan nilai-nilai ilahiyah  pada  manusia  (fitrah)  dengan  bimbingan  Alquran  dan  as-Sunnah (Hadits) sehingga menjadi manusia berakhlakul karimah (insan kamil) Dengan demikian  hakikat pendidikan adalah sangat ditentukan oleh  nilai-nilai,  motivasi  dan  tujuan  dari  pendidikan  itu sendiri.Maka  hakikat  pendidikan dapat dirumuskan sebagi berikut :
1.     Pendidikan  merupakan  proses  interaksi  manusiawi  yang  ditandaikeseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik;
2.     Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik  menghadapi  lingkungan yang mengalami perubahan yang semakin pesat;
3.     Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat;
4.     Pendidikan  berlangsung  seumur  hidup;Pendidikan  merupakan  kiat  dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar